GURU BERKARYA https://www.facebook.com/luda.sofiah.5
Senin, 18 Oktober 2021
Cerpen buku ke 23 Berdamai dengan corona
BERDAMAI
DENGAN CORONA Terima kasih korona Setiap musibah, Pasti ada hikmahnya
banyak orang mengenal kalimat ini sebagai menentram hati kala berputus asa
menghadapi sesuatu masalah atau situasi yang tidak nyaman dalam kehidupan.
Kembali pada diri kita sendiri dalam menyikapi semua permasalahan . Aku seorang guru setiap hari berdampingan
dengan terbit matahari berangkat ke
sekolah dengan membawa semangat berbagi pengalaman, bercengkrama berlatih dan
membaca pengetahuan baru. Begitu indah
hari hari kulalui Bersama siswa. Perjalanan belajar sudah memasuki bulan maret,
rutinitas yang biasa kulakukan tiba tiba terhenti mengerem pakem seketika, saat
beredar bahwa sekolah harus tutup sementara. Kecewa sekali rasanya, banyak angan yang sudah
berputar di kepala akan melakukan apa di hari hari berikut di sekolah, ternyata
tidak akan terlaksana seperti biasanya, dan dengan keadaan seperti ini entah apa
yang bisa aku perbuat apa dan bagaimana dengan siswa yang berdiam diri di rumah
tanpa kejelasan bagaimana situasi belajar nya .
Hari hari berlalu aku semakin merasa tak
berdaya dengan situasi ini berdiam diri terbelenggu dalam sangkar.Kegiatan belajar berubah dengan gaya berbeda.
Pembelajaran dilakukan dengan daring
atau belajar lewat media telekomunikasi baik computer maupun handphone, namun yang terjadi dan banyak menjadi permasalahannya, aku sebagai guru menjadi
tempat menerima keluh kesah para orang tua yang terus menerus mengeluh dengan
keadaan ini, karena untuk mengajari anak anaknya di rumah mereka merasa kesulitan
dan semakin tidak karuan mengatur dan mendidik anakanaknya,Aku berusaha terus agar pembelajaran berjalan dan komunikasi aku dan siswatidak terputus . Aku juga harus mengajari orang tua agar Ketika mengajari anaknya di rumah mampu
menjelaskan nya. Di tengah rasa
terpenjara di rumah dan tak bisa ke mana mana, akhirnya aku membuat video
belajar dengan aplikasi dan rekaman meskipun tidak total di lakukan,
minimal tetap belajar setiap hari, Hari berlalu, aku yang bias nya menari,
bernyanyi di depan siswa. kini mati gaya, Setiap hari di rumah kebelakang
kedepan dan tiba sudah malam dan berganti siang begitu cepat berputar,
sementara berita duka tak henti hentinya berkumandang, baik di wa grup maupun di
lingkungan kampung dan kota, Benar benar tahun ini seluruh duniamerasakan kejam nya korona. Hari hari semakin
mencekam, menakutkan dan was was jika hendak keluar rumah, banyak masalah dari
kalangan menengah kebawah tentang masalah kebutuhan hidup. Aku hanya bisa bersyukurmeskipun hanya seorang guru tapi untuk
memenuhi kebutuhan masih bisa membantu orang sekitar walaupun tidak seberapa. Hari hari mulai semakin membosankan,
aku selalu menyibukkan diri di depan Komputer, selain membuat video belajar berkomunikasi
dengan siswa juga wali murid lewat wa grup, aku juga mulai menulis dengan komunitas
menulis dari rumah, semakin asik aku menyibukkan
diri di depan komputer aku melirik program Kementrian Pendidikan, ternyata
banyak kegiatan belajar daring bagi guru
yang di luncurkan, Hal ini membuat aku
tergiur untuk mengikutinya daripada menyimak berita berita yang membuat hati
was was dalam Suasana mencekam tidak karuan, aku tergiur dan ikut ikutan belajar di program Kementrian Pendidikan, dari belajar dan berbagi juga guru penggerak, ada juga
pelatihan pelatihan dengan z-meet lainnya yang di ikuti. yang harus melakukan apa
ternyata malah di buat repot karena semua kegiatan dunia maya di ikuti. Namun ada
keuntungannya dari semua yang aku lakukan di rumah dengan dunia maya, Aku bayak mendapat teman
baru dan wawasan baru. Ternyata dunia tidak se daun kelor, semakin asik aku
dengan dunia maya bersibuk ria dengan tugas tugas daring yang di tayang kan oleh Kementrian. Aku semakin merasa sehat dan suasana mencekam sudah tak aku
hiraukan lagi, namun tetap mawas diri. Semakin banyak yang aku ikuti membuat aku
semakin kewalahan tetapi dengan kegiatan menyibukan diri. Ternyata membuat
aku lupa ya, kalau bencana korona masih
beredar, was was setiap hari masih membayangi sekeliling, tapi semua seolah
berjalan begitu saja tanpa beban, meskipun terkadang aku tidak bisa bisa tidur
hanya karena di wa grup hampir setiap hari mendengar berita duka, semua ku
lewati dengan selalu berdoa dan terus berdo’a memohon dan memohon tiada henti
untuk terhindar dari marabahaya dan bencana, korona segera hengkang dan pergi
tak perlu Kembali. Aku masih terus berkutat dengan komputer
dan semakin erat dengan keyboard dan z-meet, keseruan, canda dan cerita melupakan
semua kegelisahan dan ketakutan yang selama ini mengintai.Aku sudah tidak merasa sakit jiwa karena
keterbatasan ruang gerak. saat mendapatkan buku yang telah aku tulis Bersama
teman teman penulis di KKK edisi menulis dari rumah. Aku juga bersyukur lulus di
program guru penggerak yang di luncurkan oleh kemendiknas. Ternyata aku tidak harus marah dengan korona, biarlah korona dengan dunianya hingga bosan dan pergi, tapi aku harus bersyukur kepada
Allah yang telah membuat aku semakin banyak memiliki wawasan dan teman juga
karya selama diam di rumah. Diam di
rumah bukan berarti tidak melakukan apa apa, tetapi justru kita harus menciptakan
hal yang baru dan yang mampu kita lakukan, Danyak pelajaran bermakna dari
datangnya korona, terimakasih korona. Silahkan pergi.. Penulis
Luda Sofiah,S.Pd Mengajar
di SD negeri Tegal jetak Ciruas kab serang. Telah menulis 21 Antologi
cerpen,pantun dan puisi 2kali mendapat
penghargaanpegiat literasi Tk kabupaten,
, menjadi nara sumber budaya baca. selain mengajar di SD Negeri Tegal jetak
juga pernah menjadi fasilitator USAID Prioritas Banten sejak 2012 sampai 2017
Kisak pandemi
BalasHapus